Selamat berkunjung di blog ini, jangan lupa tinggalkan komentar anda, terima kasih....

Minggu, 22 September 2013

Salah Faham Dalam Mengartikan Wacana-wacana Sufi

Oleh: KH. Lukman Hakim Ph D

Diantara tudingan yang dilontarkan oleh mereka yang anti tasawuf adalah kata-kata atau wacana yang muncul dari Ulama sufi yang dianggap menyimpang dari Qur’an dan Sunnah. Kedalaman-kedalaman Hikmah yang muncul dari ucapan para Sufi ternyata diartikan secara general
dan tekstual begitu saja sehingga menimbulkan salah paham, baik bagi para Sufi pemula maupun mereka yang sejak awal mencari-cari kesalahan dan kelemahan Tasawuf.

Syeikh Abdul Qadir Isa al-Halaby, menulis secara khusus untuk menjawab mereka yang kontra dengan masalah ini dalam kitabnya Haqaiq ‘Anit-Tashawwuf. Katanya:
Apa yang kita lihat dalam kitab-kitab Tasawuf ada beberapa hal yang tampak bertentangan dengan lahiriyahnya nash Syari’at. Hal itu bisa disebabkan oleh latar belakang berikut:
Pertama, wacana itu dipalsukan oleh mereka yang kontra, kemudian disandarkan pada Sufi tertentu. Para pemalsu ini muncul dari kaum Zindiq dan mereka yang dengki dengan dunia Sufi, serta musuh-musuh Islam.

Kedua, memang wacana itu benar adanya, tetapi untuk memahaminya membutuhkan takwil. Karena para Sufi berbicara dengan bahasa isyarat, metafora atau peribahasa, sebagaimana kita jumpai pada kata-kata dalam bahasa Arab yang penuh dengan metafor, seperti misalnya dalam Al-Qur’an ada ayat:
Dan firman Allah Ta’ala:
“Dan bertanyalah pada desa”
(maksudnya penduduk desa)

“dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan?”
(Al An-am 122) (maksudnya adalah matinya hati, lalu Allah mengghidupkannya)

“Agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya”
(maksudnya dari kegelapan kekafiran menuju cahaya iman)
Dan banyak ayat Al-Qur’an yang membutuhkan takwil, tidak dipahami begitu saja menurut tekstualnya, karena kebiasaan sastra Arab yang menggunakan kekuatan bahasa metaphor. Jika kita fahami indikator dan makna dibalik ayat tersebut baru kita menerima takwil yang sesungguhnya, sehingga unsur kontradiktif bisa sirna.
Seperti dalam suatu ayat:

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai.” (Al-Qoshosh: 56)

Dan di ayat lain disebutkan:
“Dan sesungguhnya kamu menunjukkan kepada jalan yang lurus” (Asy-Syuro: 52)

Bagi orang yang tidak memahami tafsir seakan-akan dua Nash itu bertentangan, karena ayat pertama menafikan Rasul SAW dari pemberi hidayah, dan ayat kedua Rasul SAW berhak memberi petunjuk. Tetapi kalau kita bertanya kepada ahli dzikr pasti terjawab, bahwa pada ayat pertama bermakna sebagai pencipta hidayah, dan ayat kedua bermakna sebagai pemberi ajaran tentang hidayah. Sehingga kedua Nash tersebut tidak bertentangan.

Banyak pula kita jumpai dalam Hadits-hadits Nabi saw, yang tidak bisa difahami menurut tekstualnya, tetapi harus ditakwili dengan pemahaman yang selaras dengan syariat dan relevan dengan Al-Qur’an. Dalam konteks inilah Asy-Sya’roni menegaskan: “Para ahli kebenaran sepakat untuk mentakwili hadits-hadits Sifat, seperti hadits: “Tuhan (Tabaroka wa-Ta’ala) kita turun setiap malam ke langit dunia sampai tersisa sepertiga malam terakhir, lalu befrirman: “Siapa yang berdoa kepadaKu niscaya Aku kabulkan…Siapa yang meminta kepadaKu niscaya Aku beri….Siapa yang memohon apmunan kepadaKu niscaya Aku ampuni” (Hr. Bukhari dan Muslim)

Sementara mereka yang tersesat memaknai sesuai dengan teksnya, dan berkata di atas podium, lalu ia dari podium itu, sembari berkata kepada publik: “Tuhanmu turun dari KursiNya ke langit seperti saya turun dari podiumku ini.” Jelas, pandangan ini sangat bodoh dan menyesatkan. (lihat Attashawwuful Islamy was-Sya’rany, Thoha Abdul Baqi Surur, hal 105)
Misalnya pula dalam hadits Nabi, “Sesungguhnya Allah menjadikan Adam menurut rupaNya.” (Hr. Muslim)

Menurut Ibnu Hajar Al-Haitsamy ra, harus ditakwili: “Benar bahwa dlomir (kata ganti) itu kembali kepada Allah Ta’ala sebagaimana lahiriahnya ayat. Dan hal itu harus ditegaskan dimaksud dengan “rupa” adalah “Sifat”. Yakni sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan Adam menurut Sifat-sifatNya, antara lain sifat Ilmu, Qudrat dan lain sebagainya. Hal ini dikuatkan hadits Aisyah ra, “Akhlak Rasulullah saw, adalah Al-Qur’an.” (hr. Musmim) Dan hadits, “Berakhlaklah dengan Akhlaq-akhlak Allah Ta’la”.

Indikasi hadits tersebut sepenuhnya adalah mensucikan akhlaq dan sifat-sifatnya dari segala kekuarangan agar bisa menjadi asas bagi semainya Akhlaq Tuhannya, yakni Sifat-sifatNya. Sebab kalau tidak ditakwili dengan Sifat itu maka akan terjadi kontradiktif antara Yang Maha Qodim dengan yang hadits (baru).

Dengan statemen ini ditegaskan bahwa hadits tersebut memberikan pujian pada Adam as, dimana Allah memberikan sifat-sifat pada Adam seperti Sifat-sifat Allah Ta’ala. Karena itu sebagaimana pandangan para Ulama, haruslah ditakwili pada hadits yang kata gantinya tersebut langsung pada Allah Ta’ala. Berbeda dengan mereka yang sesat memahami hadits tersebut, semoga Allah melindungi kita dari semua itu.

Al-‘Allamah al-Munawi dalam syarahnya terhadap Al-Jami’ush-Shoghir mengatakan, mengenai hadits Nabi saw, “Sesungguhnya Allah berfirman di hari kiamat, “Wahai manusia Aku sakit tai kamu tidak menjengukKu. Manusia berkata, “Bagaimana aku menjengukMu, sedangkan Engkau adalah Tuhan alam semesta?” Allah menjawab, “Ketahuilah jika hambaKu si fulan sakit lalu kenapa tidak menjenguknya? Ketahuilah, sesungguhnya jika kamu menjenguk si fulan, niscaya kamu menemuiKu di sisi fulan itu….(sampai akhir hadits, Hr Muslim).


Jika hadits Rasulullah saw, perlu ditakwili, padahal hadits tersebut telah mencapai tingkat sastra tertinggi bahkan paripurna sebagai kalimat untuk mengetahui makna terdalamnya agar dipahami ummatnya, tentu saja setiap ilmu pengetahuan, juga memiliki istilah-istilah (terminologi) khusus yang membutuhkan uraian dan penafsiran. Apakah ahli fisika faham akan istilah kedokteran? Apakah tukang jahit mengenal istilah otomotif?

Bagi kaum Sufi memiliki istilah-istilah khusus yang perlu ulasan pula, sehingga untuk memahaminya perlu berguru pada mereka agar tidak salah memahami wacananya, agar pemahamannya tidak melenceng dari Al-Qur’an dan Sunnah, tidak menyimpang dari syariat, karena para Ulama Sufi itulah yang tahu benar spirit terdalam dibalik hakikatnya. Sampai sebagaian kaum Arifin mengatakan, “Kami adalah kaum yang melarang orang lain yang tidak mengikuti Thariqat kami, menganalisa kitab-kitab kami”. Karena tujuan menulis kitab-kitab tersebut memang diperuntukkan kalangan Sufi, sementara orang yang tidak mengenal thariqat Sufi biasanya antipati lalu menjauhi bahkan memusuhi. Karena manusia itu musuh bagi kebodohannya sendiri. Sayyid ali bin Wafa ra, mengatakan, “Siapa yang menulis ma’rifat dan rahasia-rahasia, sesungguhnya tidak ditulis untuk publik, bahkan mereka melarang membacanya kalau mereka bukan ahlinya.”

Tetapi bahwa kaum Sufi yang sangat hati-hati menguraikan apa yang hendak dikatakan bagi mereka yang tidak aham, sama sekali bukan tergolong orang yang “menyembunyikan ilmu”. Semata dikawatirkan jika hal itu dipublikasi malah menjadikan salah paham, bahkan seringkali malah dipahami melenceng dari hakikatnya. Lalu terjadilah kontradiksi dan pertentangan.

Sayyidina Ali karromallahu Wajhah mengatakan, “Sampaikan kepada manusia sesuai dengan pengetahuan mereka, apakah kalian senang jika mereka mendustakan Allah dan RasulNya?”
Syeikh zarud ra, mengatakan, “Dalam disiplin ilmu, ada yang umum ada yang khusus, hal yang sama dalam dunia tasawuf. Seharusnya yang berifat umum itu seputar hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan amaliyah dan muamalat, dan selebihnya disampaikan menurut kemampuan orang per-orang.

Al-Junaid pernah ditanya, “Ada dua orang bertanya kepada anda tenang satu masalah yang sama, tapi anda menjawabnya berbeda?” Dia menjawab, “Jawaban itu menurut kadar si penanya. Rasulullah saw, bersabda, “Kami diperintahkan untuk bicara pada manusia menurut kadar akalnya.” (hr. Ad-Dailamy).

Karena itu Syeikh Muhyididin Ibnu ‘Araby mengatakan, dalam Bab 54 pada kitabnya Al-Futuhatul Makkiyyah, “ Ketahuilah bahwa kaum sufi (Ahlullah) tidak membuat istilah-istilah dan isyarat hanya untuk mereka, karena mereka mengenal kebenaran secara gamblang. Tetapi mereka membuat istilah dan isyarat itu agar mencegah salah faham, semata karena belas kasihan agar tidak diingkari oleh mereka yang belum sampai, sehingga jika mereka mengingkari kaum Sufi, mereka malah tersiksa dengan sendirinya, bahkan tidak meraih manfaat selamanya.

Suatu hal yang menakjubkan dalam thariqat ini, bahkan tidak dijumpai kecuali di dalamnya, bahwa tidak satu pun dari kalangan disiplin ilmu, baik dari kaum logika, ahli gramatika, ahli fisika dan matematika, kaum teolog dan filosuf, melainkan mereka punya istilah yang harus tunduk pada disiplin mereka. Kecuali kaum thariqat ini, maka, bagi murid yang benar manakala memasuki thariqatnya dan segala istilah yang ada pada mereka, bermajlis dengan mereka, dan mendengarkan sejumlah isyarat dan istilah mereka, para murid ini mahaminya secara langsung, seakan-akan mereka inilah yang membuat istilah itu, dan mereka bergabung dalam telaga ilmu itu.

Tidak ada yang aneh dalam diri mereka, bahkan mereka menerima secara naluriyah, tidak kontra sama sekali, demikian seterusnya, dan mereka tidak tahu bagaimna mereka mendapatkan hal itu. Ini bagi murid yang benar, tetapi bagi murid pendusta tidak mengerti sama sekali apa yang didengar, tidak tahu apa yang dibaca, dan dalam setiap zaman para Ulama tekstual-skriptural (ahli lahiriyah) senantiasa kontra dengan wacana Sufi. Cukuplah dengan pengalaman Imam Ahmad bin suraij yang menghadiri majlisnya Al-Junaid, kemudian ditanya, “Apakah anda memahami kata-katanya?” Ia berkata, “Saya tidak tahu apa yang dikatakan Junaid, tetapi saya menemukan kata-katanya yang menghujam dalam hati, yang menunjukkan amaliyah batin dan kejernihan dalam jiwa. Kalamnya Junaid bukanlah kalam yang batil.”

Kaum Sufi tidak menggunakan metafora, kecuali pada kalangan yang memang bukan publik Sufistik. Dan bukan rahasia lagi, bahwa munculnya kontra terhadap dunia Sufi sesungguhnya muncul dari kaum yang dengki. Seandainya kaum pendengki itu bisa menghilangkan rasa dengkinya dan menempuh jalan menuju kepada Allah sebagaimana thariqat Sufi, pasti tidak muncul sikap kontra dan kedengkian, bahkan ilmunya semakin bertambah. Tetapi faktanya memang demikian, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung.” (lihat Al-Yawaqit wal-Jawahir)

Tidak ada komentar: