Selamat berkunjung di blog ini, jangan lupa tinggalkan komentar anda, terima kasih....

Selasa, 27 Februari 2018

Peran dan Sejarah Dakwah Kaum Habib Nusantara

Sufinews.com
DALAM sejarah Hejaz, keturunan nabi ini hingga abad ke-20 memegang peranan penting dalam pemerintahan Arab bahkan setelah keruntuhan Dinasti Othoman di Turki, karena hampir dipastikan corak Negara yang bersifat khilafah bahkan di beberapa bagian dari kerajaan Islam dunia berangsur-angsur mulai
digantikan oleh yang bercirikan Republik atau Nasionalis yang sifatnya territorial, berdasarkan letak kepulauan atau dalam batas-batas tertentu daratan sebagaimana semangat dan watak Demokrasi yang mulai bergaung dari jaman Revolusi Prancis, Yunani di belahan Eropa dan berkembang dengan Revolusi Amerika, sejak itulah Negara Demokrasi menjadi pilihan utama bagi Negara-negara yang masih terjajah oleh Post Kolonialisme. 
Dalam sejarah Hejaz, keturunan nabi ini hingga abad ke-20 memegang peranan penting dalam pemerintahan Arab bahkan setelah keruntuhan Dinasti Othoman di Turki, karena hampir dipastikan corak Negara yang bersifat khilafah bahkan di beberapa bagian dari kerajaan Islam dunia berangsur-angsur mulai digantikan oleh yang bercirikan Republik atau Nasionalis yang sifatnya territorial, berdasarkan letak kepulauan atau dalam batas-batas tertentu daratan sebagaimana semangat dan watak Demokrasi yang mulai bergaung dari jaman Revolusi Prancis, Yunani di belahan Eropa dan berkembang dengan Revolusi Amerika, sejak itulah Negara Demokrasi menjadi pilihan utama bagi Negara-negara yang masih terjajah oleh Post Kolonialisme. 
Semenjak masa-masa sebelumnya mereka ini mendapat tempat khusus dimata penduduk Hejaz. Mereka dibaiat menjadi penguasa dan imam serta pelindung tanah suci. Dalam tatanan Hejaz, mereka diberikan sebutan Syarif untuk laki-laki dan Syarifah untuk perempuan. Sedangkan diluar Hejaz, dari beberapa golongan ada yang memberikan title Sayyid dan Sayyidah, atau juga dengan sebutan Habaib, dan lain sebagainya untuk memberikan satu tanda bahwa mereka yang diberikan titel ini dianggap masih memiliki kaitan darah dan nasab dengan Nabi Muhammad SAW.
Menurut Sayyid Muhammad Ahmad al-Syatiri dalam bukunya Sirah al-Salaf Min Bani Alawi al-Husainiyyin, para salaf kaum Alawi di Hadramaut dibagi menjadi empat tahap yang masing-masing tahap mempunyai gelar tersendiri. Gelar yang diberikan oleh masyarakat Hadramaut kepada tokoh-tokoh besar Alawiyin ialah :
Imam (dari abad III H sampai abad VII H). Tahap ini ditandai perjuangan keras Ahmad al-Muhajir dan keluarganya untuk menghadapi kaum Khawariji. Menjelang akhir abad 12 keturunan Ahmad al-Muhajir tinggal beberapa orang saja. Pada tahap ini tokoh-tokohnya adalah Imam Ahmad al-Muhajir, Imam Ubaidillah, Imam Alwi bin Ubaidillah, Bashri, Jadid, Imam Salim bin Bashri.
Syaikh (dari abad VII H sampai abad XI H). Tahapan ini dimulai dengan munculnya Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang ditandai dengan berkembangnya tasawuf, bidang perekonomian dan mulai berkembangnya jumlah keturunan al-Muhajir. Pada masa ini terdapat beberapa tokoh besar seperti Muhammad al-Faqih al-Muqaddam sendiri. Ia lahir, dibesarkan dan wafat di Tarim.
Habaib (dari pertengahan abad XI sampai abad XIV). Tahap ini ditandai dengan mulai membanjirnya hijrah kaum Alawi keluar Hadramaut. Dan di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya kerajaan Alaydrus di Surrat (India), kesultanan al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, al-Syahab di Siak dan Bafaqih di Filipina. Tokoh utama Alawi masa ini adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang mempunyai daya pikir, daya ingat dan kemampuan menghafalnya yang luar biasa, juga terdapat Habib Abdurahman bin Abdullah Bilfaqih, Habib Muhsin bin Alwi al-Saqqaf, Habib Husain bin Syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Hasan bin Soleh al-Bahar, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi.
Sayyid (mulai dari awal abad XIV ). Tahap ini ditandai kemunduran kecemerlangan kaum Alawi. Di antara para tokoh tahap ini ialah Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi, Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Allamah Abu Bakar bin Abdurahman Syahab, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Husain bin Hamid al-Muhdhar. Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa Alawiyin atau qabilah Ba’alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Qabilah Alawiyin di Hadramaut dianggap orang Yaman karena mereka tidak berkumpul kecuali di Yaman dan sebelumnya tidak terkenal di luar Yaman.
Jauh sebelum itu, yaitu pada abad-abad pertama hijriah julukan Alawi digunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Imam Ali bin Abi Thalib, baik nasab atau keturunan dalam arti yang sesungguhnya maupun dalam arti persahabatan akrab. Kemudian sebutan itu (Alawi) hanya khusus berlaku bagi anak cucu keturunan Imam al-Hasan dan Imam al-Husein. Dalam perjalanan waktu berabad-abad akhirnya sebutan Alawi hanya berlaku bagi anak cucu keturunan Imam Alwi bin Ubaidillah. Alwi adalah anak pertama dari cucu-cucu Imam Ahmad bin Isa yang lahir di Hadramaut. Keturunan Ahmad bin Isa yang menetap di Hadramaut ini dinamakan Alawiyin diambil dari nama cucu beliau Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa yang dimakamkan di kota Sumul.
Kaum Arab, terutama yang beragama Islam telah sejak berabad lamanya melakukan perniagaan dengan berbagai negara di dunia, yang selanjutnya menciptakan jalur-jalur perdagangan dan komunitas-komunitas Arab baru diberbagai negara. Dalam berbagai sejarah dinyatakan bahwa kaum Arab yang datang ke Indonesia merupakan koloni Arab dari daerah sekitar Yaman dan Persia. Namun, yang dinyatakan berperan paling penting dan ini diperlihatkan dengan jenis madzhab yang ada di Indonesia, dimungkinkan adalah dari Hadramaut. Dan orang-orang Hadramaut ini diperkirakan telah sampai ke Indonesia semenjak abad pertengahan (abad ke-13) sesudah adanya huru-hara di Baghdad.
Secara umum, tujuan awal kedatangan mereka adalah untuk berdagang sekaligus berdakwah, dan kemudian berangsur-angsur mulai menetap dan berkeluarga dengan masyarakat setempat. Dari mereka inilah kemudian muncul banyak tokoh dakwah yang termaktub dalam team Walisongo dan banyak tokoh dakwah islam hingga masa sekarang. Walaupun masih ada pendapat lain seperti menyebut dari Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, tampaknya itu semua adalah jalur penyebaran para Mubaligh dari Hadramawt yang sebagian besarnya adalah kaum Sayyid (Syarif).
Para sayyid Alawiyin menyebarkan da’wah Islamiyah di Asia Tenggara melalui dua tahap, pertama hijrah ke India. Kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara melalui pesisir India. Di antara yang hijrah ke India adalah seorang alim syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota ‘Kanur’ dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat. Salah seorang Habaib lainnya adalah Syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Ahmadabad dan Surat. Ia hijrah atas permintaan kakeknya Syarif Syech bin Abdullah Alaydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi gelar ‘Azhamat Khan’. Dari keluarga inilah asal keturunan penyebar Islam di Jawa yang disebut dengan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan perjalanannya ke Indonesia, yaitu daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.

Senin, 12 Desember 2016

Dimas Kanjeng Dan Sunyinya Akal Sehat


Oleh: DR  KHM Lukman Hakim

Kasus Dimas  Kanjeng Taat Pribadi Probolinggo dan AA Gatot Brajamusti, bagi manusia Indonesia bukan hal yang luar biasa. Karena atmosfir magic telah berkembang menjadi industri budaya yang dinikmati oleh semua kalangan. Apalagi  ketika industri spiritual semu (pseduo spiritual)
didukung oleh manajemen modern,  dan sejumlah aktivitas hipnotis, keparanormalan, dan motivasi psikhologis serba instan dengan tema-tema agama, dengan  janji sukses material. Hal yang tak kalah pahitnya dalam industri ini seperti power sedekah, power ikhlas,  keajaiban doa, istighosah politis,  marak tanpa kontrol, untuk dijadikan legitimasi gerakan industri spiritual yang palsu, yang setara dengan narkoba untuk kepentingan spiritual.
Sukses besar, dan sejumlah harapan masa depan, ancaman,  ketakutan,  issue dan instanisme, adalah tema  yang paling laris untuk dijual, dan pembelinya  kalangan  professional, terpelajar maupun awam.  Booming batu akik beberapa waktu silam misalnya,  menjadi indikator keterpurukan psikologis masyarakat ketika hendak melawan perubahan yang tidak pasti, dan masyarakat menikmatinya, sebagai eskapisme ketidakpastian ekonomi, politik dan ketidak percayaan atas spiritualitas dan realitas yang diyakini selama ini.  
Inilah bagian dari mitos-mitos yang dipaksakan jadi fakta, agar diyakini sebagai harapan perubahan nasib, tanpa kerja keras yang sesungguhnya dan pengetahuan keagamaan yang benar. Kelak ketika tidak terbukti, mereka hanya beralibi pada katarsis, “Memang belum takdirNya.” Sebuah wacana yang menzalimi diri sendiri, demi kepentingan instanisme yang gagal.
Paradok-paradok sosial ini akan terus berlangsung selama pendidikan dan dakwah keagamaan kita  tidak membangun landasan filosufi yang jelas, dalam hubungan  strategis  kebudayaan nusantara ini. Konflik agama dengan kekayaan kultur lokal, pernah diselesaikan oleh para Walisongo, namun akurasi informasi dan tafsiran budayanya menjadi simpang siur hingga saat ini. Yang muncul selalu wilayah abu-abu dengan kerancuan spiritual atas nama agama dan kearifan lokal.
Dalam fakta sosiologis, pandangan hidup antara wilayah spiritual dan material, antara rasionalisme dan religi,  bahkan Peran Tuhan dan kemanusiaan,  seringkali rancu dalam konflik horisontal yang hingga saat ini tidak diselesaikan tuntas oleh para pendidik dan Ulama,  kecuali sekadar menyerah pada tradisi Jabaretisme (serba takdir Allah swt) , walaupun Ulama NU dan Cendekiawan Muhammadiyah telah menggelorakan Islam Moderat (tawassuth dan tawazun) , pada kenyataannya Jabaretisma moderat sangat dominan dalam kultur nusantara kita. 
PERLAWANAN AKAL SEHAT
Dalam situasi demikian, gerakan ala Dimas Kanjeng akan  selalu muncul sebagai perlawanan budaya akal sehat, untuk sekadar  tampil lebih suprematif dalam kehidupan sosial, bukan lagi soal kelaparan atau kemiskinan, tetapi status baru yang kemudian menjadi antiklimaks atas dakwah keagamaan yang menjanjikan harapan instan, baik secara politik maupun ekonomi.  Akal sehat  (bashirah) akan menjadi ruang sunyi yang tersingkir begitu saja,  karena mitos telah berubah jadi dogma.
Apakah ini bentuk kegagalan tafsir agama atas budaya lokal yang dipelihara? Atau karena ketakberdayaan menghadapi situasi struktural  yang tidak memihak nasib rakyat di bawah? Atau ini bentuk oposisi kultural atas kemapanan yang tidak mampu merubah nasib mereka? Lalu apa bedanya dengan munculnya ISIS dan para teroris, yang juga gagal dalam menafsirkan teks agama? Atau bangsa kita telah lama sakit, lalu menikmati romantisme penyimpangan dan kejahatannya sebagai khazanah yang dibanggakan?
Untuk menjawabnya butuh kejujuran intelektual  yang cerdas, karena di satu sisi kita menghadapi  mitos “jahiliyah kultural” dan di sisi lain akal sehat modernitas yang diunggulkan di dunia pendidikan masih merujuk pada  sekularisme masyarakat modern yang nestapa.  Akal sehat yang yang tercerahkan sesungguhnya, pasti melahirkan pencerahan atas semua tafsir keagamaan dan kebudayaan, sekaligus mereposisi peran masing-masing dalam bangunan organisme karakter psikologis. Tanpa reposisi peran agama, peran budaya, peran kreativitas manusia dan alam, bangsa kita akan terus menerus di awang-awang, lalu peradaban  membusuk di tong sejarah. Inilah yang membangkitkan gerakan-gerakan alternatif spiritual semu yang sangat memuakkan itu.
Komunitas-komunitas instanisme  adalah pasien-pasien rumah sakit jiwa bangsa ini, sebagai model kegilaan spiritual, yang jauh dari citra kemanusiaan dan  ajaran agama yang diperankan oleh para pejuang dan pewaris para Nabi. Pada akhirnya pasti menuntut hadirnya para dokter spiritual, dan pengobat moral , yang mampu memberi terapi psikhologis pesakitan-pesakitan itu.  Trilogi manajemen dakwah Islam yang  melandaskan cara pandang Jalan Tuhan yang penuh hikmah, dan nasehat yang bajik serta argumentasi yang lebih logis, di negeri ini tidak pernah terukur oleh indikator yang jelas. Sehingga gerakan-gerakan dakwah selalu muncul seperti industri spiritual, muncul bak jamur dengan produknya   seperti supermarket yang bisa dinikmati siapa saja melalui media massa oleh siapa saja.
Semua berujung pada hal yang ekstrim:  Segalanya bermerek agama dan Tuhan, -- termasuk kasus terakhir dengan Narkoba bermerek  Aktifitas Spiritual -- atau sebaliknya rasionalisme liberal yang genit dan eksotis, dengan upaya-upaya rasionalisasi dogma agama, demi janji masa depan. Sedangkan Islam Moderat yang mayoritas di negeri ini juga belum terekonstruksi dalam praktek kemodernan, namun masih  nyaman dengan  tradisi intelektual masa lampau, tanpa rekonstruksi (tajdid) yang  mampu memberi harapan dan keyakinan masyarakat modern, kecuali sekadar  argument eskapisme klasik atas pentingnya kearifan lokal, kenusantaraan dan keindonesiaan.  
NU dan Muhammadiyah  berada di garis depan Islam Moderat, tetapi masih harus membuktikan akurasi epistemologis dalam pandangan teologisnya, untuk didaratkan ke bumi nusantara yang modern. Kaum Nahdhiyyin yang mayoritas di bawah misalnya lebih banyak menjadi korban kepalsuan spiritual ala Dimas Kanjeng dan sejenisnya,  karena tradisi taklidnya  yang secara sosiologis sangat paternalistik termasuk dalam merespon harapan-harapan palsu yang berbau mitologis.  Sementara kalangan Muhammadiyah juga baru membangun arsitek kultural modern ala rumah kaca, cantik dan terpelajar, namun tidak kokoh bagi huniaan jutaan ummat, juga menjadi korban spiritualisme perkotaan yang mencoba merasionalkan agama untuk kepentingan material.
Spiritualitas keagamaan  semacam apa yang bisa mencerahkan bangsa ini? Atau rasionalitas dengan paradigma seperti apa yang bisa mencerdaskan generasi negeri ini? Tanpa kita tuntaskan dua hal tersebut, bangsa ini akan terus terkaget-kaget dalam atmosfir kelatahan spiritual yang sangat tolol, ketika menghadapi perubahan-perubahan sosial yang cepat. Tak habis-habisnya kita disuguhi tontonan teater yang mengulang tema sejarah kegalauan sosial yang sudah membusuk.
Kita memiliki agenda-agenda besar yang terus dituntut oleh sejarah, kembali kita harus duduk bersama seperti para bapak bangsa kita, saat merumuskan konstitusi kita, merumuskan kembali pandangan spirit kebudayaan, keagamaan dan kebangsaan,  yang bisa dipertanggungjawabkan di depan sejarah dan di depan Allah swt. Namun, sekarang para tokoh lebih sibuk dengan urusan kelompok dan institusi masing-masing, tanpa kesadaran spiritual yang mencerahkan mereka sendiri, kelak akan bernasib sama sebagai bangkai sejarah,  karena matahati mereka terus menerus terpejam dalam kabut hawa nafsunya.

Rabu, 18 November 2015

Sama' (Mendengar lagu dan Syair) II

Dikisahkan, bahwa Nabi Daud as. ketika sedang membaca kitab Zabur, manusia dan jin, burung dan binatang buas selalu menyimaknya. Rasulullah Saw bersabda tentang Abu Musa al-Asy’ary “Dia telah diberi seruling dari seruling Daud.”
Dan Mu’adz berkata kepada Rasulullah Saw, “Bila engkau tahu, engkau mendengar, niscaya aku akan memperindahkannya untukmu dengan perhiasan yang benar-benar indah.”
Abu Bakr Muhammad ad-Dinawary ad-Duqqy mengisahkan: “Aku sedang berada di padang pasir, kebetulan aku berjumpa dengan kabilah Arab. Salah seorang di antara mereka menjamuku. Kulihat di sana ada seorang budak berkulit hitam sedang diikat dan aku juga melihat beberapa unta yang mati di halaman rumah. Budak itu berkata padaku,
 
“Anda malam ini sebagai tamu. Dan Anda di mata tuanku sungguh mulia. Karena itu tolonglah aku. Dia pasti tidak bisa menolak.”

Maka, kukatakan kepada pemilik rumah,
 
“Aku tak mau menyantap makananmu, kecuali Anda mau melepaskan ikatan pada budak ini.”
 
Maka tuan si budak itu menjawab, ‘Si budak ini telah memiskinkan dan menghancurkan hartaku.’
 

Aku bertanya, “Apa yang dilakukan?”
 Dia menjawab, “Budakku ini memiliki suara yang merdu. Sedangkan aku hidup dari tenaga unta-unta ini. Lalu unta ini dibebani dengan beban yang amat berat, dan berjalan kencang hingga menempuh perjalanan yang seharusnya ditempuh tiga hari, hanya sehari saja ditempuhnya. Ketika beban-beban itu diturunkan unta-unta itu pun mati semua. Tapi terserah padamu!’
 

Tali yang mengikat budak itu pun di lepas. Esok harinya aku ingin mendengarkan suaranya yang konon merdu itu. Si budak itu diperintah untuk menghalau unta dengan nyanyian merdunya, menuju sebuah sumur di ujung sana yang biasa untuk tempat minumnya. Si budak itu pun menghalaunya. Dan unta itu pun menoleh ke arah wajahnya, sembari membetot tali yang mengikatnya hingga putus.
 

Sungguh aku tak menduga, kalau aku telah mendengarkan suara yang amat merdu, kemudian unta itu menderum ke arahku, sampai akhirnya si budak itu mengisyaratkan agar diam.

Al-Junayd ditanya, “Bagaimana suasana orang yang kondisinya tenang, lalu ketika mendengarkan Sama’ tiba-tiba hatinya risau.” Maka, al Junayd menjawab, “Sesungguhnya Allah Swt. ketika berfirman kepada benih dalam perjanjian pertama, melalui firman-Nya, Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Benar (Engkau Tuhan kami) - sehingga arwah menjadi segar mendengarkan Kalam. Ketika mereka mendengarkannya, ingatan akan Sama’ tersebut telah menggerakkan mereka.”

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Sama’ itu haram bagi orang awam, karena nafsunya masih ada. Sementara diperbolehkan bagi orang-orang zuhud, sebab dengan Sama’ mereka meraih mujahadahnya. Seperti bagi kalangan kita, sangat dianjurkan, karena bisa membuat hati mereka hidup.”


Al-Harits bin Asad al-Muhasiby berkata, “Tiga perkara, bila kita menjumpainya, kita merasa nikmat, dan pada ketiganya kita telah kehilangan wajah yang bagus dengan disertai perlindungan; suara merdu disertai sikap religius; dan persaudaraan yang baik disertai tepat janji.”

Dzun Nuun al-Mishry ketika ditanya tentang suara merdu, beliau menjawab, “Perkataan-perkataan dan isyarat-isyarat yang dititipkan Allah kepada setiap laki-laki yang baik dan perempuan yang baik.” Ditanya pula tentang Sama’, jawabnya, “Bisikan Haq yang membangkitkan kalbu kepadaYang Haq. Siapa yang menyimak penuh perhatian dengan sebenarnya akan nyata benar. Dan siapa yang menyimak dengan nafsu, akan menjadi Zindiq.”
Al-Junayd berkata, “Kasih sayang akan turun kepada orang-orang sufi dalam tiga tempat:
·         Ketika sedang Sama’. Sebab mereka tidak menyimak kecuali dari suara yang benar dan mereka tidak berbicara kecuali dari intuisi.
·         Dan ketika mereka makan makanan, mereka tidak makan kecuali ketika lapar;
·         Ketika mereka sedang meraih ilmu, mereka tidak mengingat-ingat kecuali ingat pada sifat para wali.
Al Junayd berkata, “Sama’ bisa menjadi fitnah bagi yang berambisi. Dan menjadi ringan bagi yang menjumpainya.” 
Dia juga berkata, “Sama’ butuh tiga hal: Zaman, tempat dan sejumlah teman.”

Dulaf as-Syibly ditanya mengenai Sama’, dia menjawab, “Secara lahiriah adalah fitnah, sedangkan batinnya adalah pelajaran. Siapa yang mengena isyarat, ia boleh menyimak pelajaran. Jika tidak, berarti ia mengundang fitnah dan menawarkan terhadap bencana.”

Dikatakan, ”Sama’ tidak layak, kecuali pada orang yang nafsunya telah mati dan hatinya telah hidup. Nafsunya disembelih dengan pedang mujahadah, sedang hatinya dihidupkan oleh cahaya keserasian (dengan
 
Allah Swt).”[pagebreak]
 
Abu Ya’qub Ishaq an-Nahrajury ditanya soal Sama’, dia menjawab, “Suatu tingkah laku yang mendorong kembali kepada rahasia jiwa dari sisi peleburan.”
Dikatakan, “Sama’ merupakan nuansa lembut di sisi arwah bagi ahli ma’rifat.”

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata, “Sama’ adalah watak, kecuali dari arah syariat, dan asing kecuali dari yang benar, dan fimah kecuali dari sisi pelajaran.”
Disebutkan, Sama’ ada dua macam, “Sama’ dengan syarat adanya pengetahuan dan kesadaran. Di antara syarat pemiliknya adalah mengenal Asma’ dan Sifat-sifat. Bila tidak, Sama’ akan menceburkan dalam kekufuran murni. Dan berikutnya adalah Sama’ dengan syarat adanya tingkah ruhani. Syarat penyimaknya haruslah fana’ dari segala tingkah laku kemanusiaan, dan bersih dari pengaruh-pengaruh duniawi, dengan menampilkan aturan-aturan hukum hakikat.”

Diriwayatkan dari Ahmad bin Abul Hawary, yang mengatakan, ‘Aku bertanya kepada Abu Sulaiman tentang Sama’, maka beliau menjawab, ‘Di antara dua yang paling kucintai dibanding satu’.”
Abu Husain an-Nury ditanya tentang Sufi, maka jawabnya, “Siapa yang mendengar Sama’, dan memberi pengaruh kepada sebab-sebab yang ada.”

Abu Utsman Said al-Maghriby berkata, “Siapa yang mengaku telah melakukan penyimakan, sementara dia tidak mendengar suara burung dan gerat-gerit pintu, serta guncangan angin, maka dia itu adalah si sufi yang mengaku-aku.”

Ibnu Zairy mempunyai seorang syeikh utama dari salah seorang murid al Junayd. Ketika sedang menghadiri majelis Sama’, maka bila berkenan ia membeberkan sarungnya dan duduk. Lantas berkata, “Sufi beserta hatinya, walaupun tidak menganggap kebaikannya.” Dia juga berkata, “Sama’ hanya bagi yang memiliki nurani hati,” sambil berkata begitu dia berjalan dan mengambil sandalnya.

Ruwaym bin Ahmad ditanya mengenai ekstase para Sufi ketika sedang Sama’, dia berkata, “Mereka menyaksikan makna-makna yang lenyap dari yang lain, lalu Anda mengisyaratkan kepada mereka yang tertuju padaku, lantas mereka mencegah agar tidak terlalu gembira. Kemudian datanglah tangis, sehingga kegembiraan itu berubah tangisan. Di antara mereka ada yang merobek bajunya, ada pula yang berteriak, ada yang menangis: masing-masing menurut kadar keterkaitan hatinya (dengan Tuhannya).”

Al-Hushry berkata, “Apa yang harus kulakukan dengan Sama’ yang terputus, apabila orang yang sedang menyimak memutuskannya? Karena itu selayaknya dalam penyimakan Anda selalu bersambung, tidak terputus.” Dia juga berkata, “Seyogyanya ia merasa dahaga selamanya, minum (ruhani) selamanya. Bila minumnya bertambah, bertambah pula dahaganya.” Mujahid dalam menafsirkan firman Allah Swt, “Maka, mereka dalam taman surga, senantiasa bergembira.”
 
(Q.s. Ar-Ruum: 15).

Maksudnya adalah Sama’ terhadap bidadari dengan suara-suaranya yang merdu sekali:
 
Kami adalah bidadari-bidadari yang abadi, tak akan pernah mati selamanya. Kami adalah kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah putus selamanya.

Dikatakan, Sama’ adalah panggilan, sedangkan ekstase adalah tujuan. Abu Utsman Sa’id ash-Sha’luky berkata, “Orang yang menyimak berada antara tirai dan ketampakan: Tirai mendorong rasa dahaga, sedangkan penampakan mewariskan rasa riang. Tirai telah melahirkan gerakan para penempuh, yaitu wahana kelemahan dan ketakberdayaan. Sementara penampakan, melahirkan ketenangan orang-orang yang sampai kepada-Nya, yaitu wahana istiqamah dan ketenangan. Itulah sifat penghadiran di hadirat Ilahi. Di dalamnya tiada lagi kecuali layu di bawah bisikan-bisikan rasa takut bercampur hormat.”
 
Allah Swt. berfirman:
“Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’.”
 
(AI-Ahqaaf 29).

Abu Utsman Sa’id al-Hiry berkata, “Sama’ ada tiga arah: satu arah bagi para murid dan para pemula, mereka sama-sama meminta kemuliaan dengan tingkah laku ruhaninya; dan kami khawatir mereka terkena fitnah.dan riya’. Arah kedua bagi mereka yang menepati kebenaran, yang menuntut nilai tambah dalam ihwal kondisi ruhaninya, dan mereka menyimak dari semuanya agar serasi dengan waktu-waktu mereka. Arah ketiga bagi ahli istiqamah dari kalangan orang-orang yang ma’rifat. Mereka sama sekali tidak memilih atas apa yang datang dari Allah dalam hatinya berupa gerak ataupun diam.”

Abu Sa’id Ahmad al-Kharraz berkata, “Barangsiapa mengaku dirinya terliputi ketika sedang memahami, yakni dalam Sama’, dan gerakan-gerakan selalu bersifat naluriah baginya, maka tanda-tandanya adalah dia memperbaiki tempat duduk yang di sana dia menemukan ekstase.”

Syeikh Abu Abdurrahman berkata, “Aku menyebut hikayat ini kepada Sa’id al-Maghriby. Lantas beliau berkata, “Inilah yang terindah. Tanda-tandanya yang benar, tak tersisa dalam suatu majelis kecuali rasa riang dengan majelis tersebut, dan tak ada yang membatalkan di dalamnya kecuali dia merasa tidak senang darinya.”

Ibnul Husain berkata, “Sama’ terdiri tiga dimensi: Di antara mereka ada yang menyimak melalui wataknya; ada pula yang menyimak melalui kondisi ruhaninya; dan ada yang menyimak melalui Allah Swt.
 

Orang yang menyimak melalui watak, ada dari kalangan awam maupun khusus. Sebab salah satu watak manusiawi adalah merasa nikmat mendengarkan suara merdu.
 
Sedangkan yang menyimak melalui kondisi ruhani, adalah dia yang merenungkan apa yang tiba padanya, berupa cacian dan khitab, bertemu atau pisah, dekat ataupun jauh, rasa kecewa terhadap apa yang hilang atau haus terhadap keinginan di masa depan, menepati janji atau membenarkan/ meyakini janji, merusak terhadap janji ataupun ingat kesusahan, merasa rindu atau takut berpisah, senang bertemu dan takut berpisah, atau yang sejenisnya.