Selamat berkunjung di blog ini, jangan lupa tinggalkan komentar anda, terima kasih....

Rabu, 18 November 2015

Sama' (Mendengar lagu dan Syair) II

Dikisahkan, bahwa Nabi Daud as. ketika sedang membaca kitab Zabur, manusia dan jin, burung dan binatang buas selalu menyimaknya. Rasulullah Saw bersabda tentang Abu Musa al-Asy’ary “Dia telah diberi seruling dari seruling Daud.”
Dan Mu’adz berkata kepada Rasulullah Saw, “Bila engkau tahu, engkau mendengar, niscaya aku akan memperindahkannya untukmu dengan perhiasan yang benar-benar indah.”
Abu Bakr Muhammad ad-Dinawary ad-Duqqy mengisahkan: “Aku sedang berada di padang pasir, kebetulan aku berjumpa dengan kabilah Arab. Salah seorang di antara mereka menjamuku. Kulihat di sana ada seorang budak berkulit hitam sedang diikat dan aku juga melihat beberapa unta yang mati di halaman rumah. Budak itu berkata padaku,
 
“Anda malam ini sebagai tamu. Dan Anda di mata tuanku sungguh mulia. Karena itu tolonglah aku. Dia pasti tidak bisa menolak.”

Maka, kukatakan kepada pemilik rumah,
 
“Aku tak mau menyantap makananmu, kecuali Anda mau melepaskan ikatan pada budak ini.”
 
Maka tuan si budak itu menjawab, ‘Si budak ini telah memiskinkan dan menghancurkan hartaku.’
 

Aku bertanya, “Apa yang dilakukan?”
 Dia menjawab, “Budakku ini memiliki suara yang merdu. Sedangkan aku hidup dari tenaga unta-unta ini. Lalu unta ini dibebani dengan beban yang amat berat, dan berjalan kencang hingga menempuh perjalanan yang seharusnya ditempuh tiga hari, hanya sehari saja ditempuhnya. Ketika beban-beban itu diturunkan unta-unta itu pun mati semua. Tapi terserah padamu!’
 

Tali yang mengikat budak itu pun di lepas. Esok harinya aku ingin mendengarkan suaranya yang konon merdu itu. Si budak itu diperintah untuk menghalau unta dengan nyanyian merdunya, menuju sebuah sumur di ujung sana yang biasa untuk tempat minumnya. Si budak itu pun menghalaunya. Dan unta itu pun menoleh ke arah wajahnya, sembari membetot tali yang mengikatnya hingga putus.
 

Sungguh aku tak menduga, kalau aku telah mendengarkan suara yang amat merdu, kemudian unta itu menderum ke arahku, sampai akhirnya si budak itu mengisyaratkan agar diam.

Al-Junayd ditanya, “Bagaimana suasana orang yang kondisinya tenang, lalu ketika mendengarkan Sama’ tiba-tiba hatinya risau.” Maka, al Junayd menjawab, “Sesungguhnya Allah Swt. ketika berfirman kepada benih dalam perjanjian pertama, melalui firman-Nya, Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Benar (Engkau Tuhan kami) - sehingga arwah menjadi segar mendengarkan Kalam. Ketika mereka mendengarkannya, ingatan akan Sama’ tersebut telah menggerakkan mereka.”

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Sama’ itu haram bagi orang awam, karena nafsunya masih ada. Sementara diperbolehkan bagi orang-orang zuhud, sebab dengan Sama’ mereka meraih mujahadahnya. Seperti bagi kalangan kita, sangat dianjurkan, karena bisa membuat hati mereka hidup.”


Al-Harits bin Asad al-Muhasiby berkata, “Tiga perkara, bila kita menjumpainya, kita merasa nikmat, dan pada ketiganya kita telah kehilangan wajah yang bagus dengan disertai perlindungan; suara merdu disertai sikap religius; dan persaudaraan yang baik disertai tepat janji.”

Dzun Nuun al-Mishry ketika ditanya tentang suara merdu, beliau menjawab, “Perkataan-perkataan dan isyarat-isyarat yang dititipkan Allah kepada setiap laki-laki yang baik dan perempuan yang baik.” Ditanya pula tentang Sama’, jawabnya, “Bisikan Haq yang membangkitkan kalbu kepadaYang Haq. Siapa yang menyimak penuh perhatian dengan sebenarnya akan nyata benar. Dan siapa yang menyimak dengan nafsu, akan menjadi Zindiq.”
Al-Junayd berkata, “Kasih sayang akan turun kepada orang-orang sufi dalam tiga tempat:
·         Ketika sedang Sama’. Sebab mereka tidak menyimak kecuali dari suara yang benar dan mereka tidak berbicara kecuali dari intuisi.
·         Dan ketika mereka makan makanan, mereka tidak makan kecuali ketika lapar;
·         Ketika mereka sedang meraih ilmu, mereka tidak mengingat-ingat kecuali ingat pada sifat para wali.
Al Junayd berkata, “Sama’ bisa menjadi fitnah bagi yang berambisi. Dan menjadi ringan bagi yang menjumpainya.” 
Dia juga berkata, “Sama’ butuh tiga hal: Zaman, tempat dan sejumlah teman.”

Dulaf as-Syibly ditanya mengenai Sama’, dia menjawab, “Secara lahiriah adalah fitnah, sedangkan batinnya adalah pelajaran. Siapa yang mengena isyarat, ia boleh menyimak pelajaran. Jika tidak, berarti ia mengundang fitnah dan menawarkan terhadap bencana.”

Dikatakan, ”Sama’ tidak layak, kecuali pada orang yang nafsunya telah mati dan hatinya telah hidup. Nafsunya disembelih dengan pedang mujahadah, sedang hatinya dihidupkan oleh cahaya keserasian (dengan
 
Allah Swt).”[pagebreak]
 
Abu Ya’qub Ishaq an-Nahrajury ditanya soal Sama’, dia menjawab, “Suatu tingkah laku yang mendorong kembali kepada rahasia jiwa dari sisi peleburan.”
Dikatakan, “Sama’ merupakan nuansa lembut di sisi arwah bagi ahli ma’rifat.”

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata, “Sama’ adalah watak, kecuali dari arah syariat, dan asing kecuali dari yang benar, dan fimah kecuali dari sisi pelajaran.”
Disebutkan, Sama’ ada dua macam, “Sama’ dengan syarat adanya pengetahuan dan kesadaran. Di antara syarat pemiliknya adalah mengenal Asma’ dan Sifat-sifat. Bila tidak, Sama’ akan menceburkan dalam kekufuran murni. Dan berikutnya adalah Sama’ dengan syarat adanya tingkah ruhani. Syarat penyimaknya haruslah fana’ dari segala tingkah laku kemanusiaan, dan bersih dari pengaruh-pengaruh duniawi, dengan menampilkan aturan-aturan hukum hakikat.”

Diriwayatkan dari Ahmad bin Abul Hawary, yang mengatakan, ‘Aku bertanya kepada Abu Sulaiman tentang Sama’, maka beliau menjawab, ‘Di antara dua yang paling kucintai dibanding satu’.”
Abu Husain an-Nury ditanya tentang Sufi, maka jawabnya, “Siapa yang mendengar Sama’, dan memberi pengaruh kepada sebab-sebab yang ada.”

Abu Utsman Said al-Maghriby berkata, “Siapa yang mengaku telah melakukan penyimakan, sementara dia tidak mendengar suara burung dan gerat-gerit pintu, serta guncangan angin, maka dia itu adalah si sufi yang mengaku-aku.”

Ibnu Zairy mempunyai seorang syeikh utama dari salah seorang murid al Junayd. Ketika sedang menghadiri majelis Sama’, maka bila berkenan ia membeberkan sarungnya dan duduk. Lantas berkata, “Sufi beserta hatinya, walaupun tidak menganggap kebaikannya.” Dia juga berkata, “Sama’ hanya bagi yang memiliki nurani hati,” sambil berkata begitu dia berjalan dan mengambil sandalnya.

Ruwaym bin Ahmad ditanya mengenai ekstase para Sufi ketika sedang Sama’, dia berkata, “Mereka menyaksikan makna-makna yang lenyap dari yang lain, lalu Anda mengisyaratkan kepada mereka yang tertuju padaku, lantas mereka mencegah agar tidak terlalu gembira. Kemudian datanglah tangis, sehingga kegembiraan itu berubah tangisan. Di antara mereka ada yang merobek bajunya, ada pula yang berteriak, ada yang menangis: masing-masing menurut kadar keterkaitan hatinya (dengan Tuhannya).”

Al-Hushry berkata, “Apa yang harus kulakukan dengan Sama’ yang terputus, apabila orang yang sedang menyimak memutuskannya? Karena itu selayaknya dalam penyimakan Anda selalu bersambung, tidak terputus.” Dia juga berkata, “Seyogyanya ia merasa dahaga selamanya, minum (ruhani) selamanya. Bila minumnya bertambah, bertambah pula dahaganya.” Mujahid dalam menafsirkan firman Allah Swt, “Maka, mereka dalam taman surga, senantiasa bergembira.”
 
(Q.s. Ar-Ruum: 15).

Maksudnya adalah Sama’ terhadap bidadari dengan suara-suaranya yang merdu sekali:
 
Kami adalah bidadari-bidadari yang abadi, tak akan pernah mati selamanya. Kami adalah kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah putus selamanya.

Dikatakan, Sama’ adalah panggilan, sedangkan ekstase adalah tujuan. Abu Utsman Sa’id ash-Sha’luky berkata, “Orang yang menyimak berada antara tirai dan ketampakan: Tirai mendorong rasa dahaga, sedangkan penampakan mewariskan rasa riang. Tirai telah melahirkan gerakan para penempuh, yaitu wahana kelemahan dan ketakberdayaan. Sementara penampakan, melahirkan ketenangan orang-orang yang sampai kepada-Nya, yaitu wahana istiqamah dan ketenangan. Itulah sifat penghadiran di hadirat Ilahi. Di dalamnya tiada lagi kecuali layu di bawah bisikan-bisikan rasa takut bercampur hormat.”
 
Allah Swt. berfirman:
“Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’.”
 
(AI-Ahqaaf 29).

Abu Utsman Sa’id al-Hiry berkata, “Sama’ ada tiga arah: satu arah bagi para murid dan para pemula, mereka sama-sama meminta kemuliaan dengan tingkah laku ruhaninya; dan kami khawatir mereka terkena fitnah.dan riya’. Arah kedua bagi mereka yang menepati kebenaran, yang menuntut nilai tambah dalam ihwal kondisi ruhaninya, dan mereka menyimak dari semuanya agar serasi dengan waktu-waktu mereka. Arah ketiga bagi ahli istiqamah dari kalangan orang-orang yang ma’rifat. Mereka sama sekali tidak memilih atas apa yang datang dari Allah dalam hatinya berupa gerak ataupun diam.”

Abu Sa’id Ahmad al-Kharraz berkata, “Barangsiapa mengaku dirinya terliputi ketika sedang memahami, yakni dalam Sama’, dan gerakan-gerakan selalu bersifat naluriah baginya, maka tanda-tandanya adalah dia memperbaiki tempat duduk yang di sana dia menemukan ekstase.”

Syeikh Abu Abdurrahman berkata, “Aku menyebut hikayat ini kepada Sa’id al-Maghriby. Lantas beliau berkata, “Inilah yang terindah. Tanda-tandanya yang benar, tak tersisa dalam suatu majelis kecuali rasa riang dengan majelis tersebut, dan tak ada yang membatalkan di dalamnya kecuali dia merasa tidak senang darinya.”

Ibnul Husain berkata, “Sama’ terdiri tiga dimensi: Di antara mereka ada yang menyimak melalui wataknya; ada pula yang menyimak melalui kondisi ruhaninya; dan ada yang menyimak melalui Allah Swt.
 

Orang yang menyimak melalui watak, ada dari kalangan awam maupun khusus. Sebab salah satu watak manusiawi adalah merasa nikmat mendengarkan suara merdu.
 
Sedangkan yang menyimak melalui kondisi ruhani, adalah dia yang merenungkan apa yang tiba padanya, berupa cacian dan khitab, bertemu atau pisah, dekat ataupun jauh, rasa kecewa terhadap apa yang hilang atau haus terhadap keinginan di masa depan, menepati janji atau membenarkan/ meyakini janji, merusak terhadap janji ataupun ingat kesusahan, merasa rindu atau takut berpisah, senang bertemu dan takut berpisah, atau yang sejenisnya.

Sama' (Mendengar lagu dan Syair) I


Allah Swt berfirman: " Sebab itu sampaikanlah berita-berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik dantaranya." (Q.s.Az-Zumar:7-8).
Huruf alif dan laam pada kata al-Qaul di atas mengandung penger­tian umum dan menyeluruh (ta’mim wal istighraq). Sedangkan dalil di atas menekankan bahwa Allah swt. Memuji kepada mereka karena mengikuti kata-kata paling baik.Allah swt. berfirman: 
"Maka, mereka berada dalam taman surga, senantiasa bergembira." (Q.s. Ar-Ruum:15).
Dalam sebuah tafsir, ditegaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan dalilnya Sama' (mendengarkan dan menyimak).
Ketahuilah, bahwa mendengarkan (Sama') syair dengan nada yang indah, apabila pendengar tidak meyakini, syair tersebut tidak menjurus pada hal-hal yang haram, dan tidak mendengarkan sebagai obyek yang tercela dalam syariat, tidak pula menarik pada emosi hawa nafsu, tidak pula memberi peluang pada nafsunya, maka penyimakan tersebut diperkenankan secara umum.
Tidak ada perbedaan pandangan, adanya beberapa syair yang diden­dangkan di hadapan Rasulullah saw dan Rasul saw. menyimaknya, bahkan tidak mengingkari mereka dalam mendendangkan syair terse­but.
Apabila menyimaknya tanpa nada yang indah diperkenankan, hukum pun tidak berubah, yakni didendangkan dengan nada yang indah. Inilah realita situasionalnya.
Lalu, bagi para penyimak terdorong mencintai kepatuhan dan mengingat apa yang telah dijanjikan Allah swt. bagi hamba-Nya yang bertaqwa, dalam derajat-derajat yang lebih tinggi. Penyimak tersebut dimungkinkan sekali agar bisa menjaga dari kesalahan-kesalahan, menyampaikan kepada hatinya seketika, sebagai kejernihan intuitif, dicintai oleh agama, dan dipilih oleh syariat. Sebab pernah ada sabda Rasulullah saw yang mendekati bait-bait syair, walaupun Rasul saw tidak bermaksud membuat syair.
Anas bin Malik r.a. berkata, "Ketika orang-orang Anshar menggali parit, mereka mendendangkan syair:
Kamilah orang-orang yang baiat kepada Muhammad
untuk berjuang sepanjang hayat.
Kemudian Rasulullah saw menjawab:
Duhai Allah, tiada kehidupan sejati
Melainkan kehidupan akhirat.
Muliakanlah orang-orang Anshar dan Muhajirah

Wacana yang keluar dari Rasul saw tersebut bukanlah wacana syair, tetapi mendekati bahasa syair. Sejumlah ulama salaf dan para tokohnya terbiasa mendengarkan bait-bait syair yang didendangkan dengan lagu.
Di antara yang memper-bolehkan mendendangkan dengan lagu adalah Imam Malik bin Anas, dan Ulama Hijaz. Mereka semua memperkenankan nyanyian.
Sedangkan nyanyian yang digunakan oleh penggembala untuk gembalanya (hida') mereka sepakat atas kebolehannya. Banyak hadist dan atsar sahabat yang berkaitan dengan nyanyian tersebut. Sebuah riwayat dari Ibnu Jurayj, bahwa dia memperkenankan Sama’. Lalu dikatakan padanya, "Bila kelak hari kiamat engkau didatangkan, kemudian didatangkan kebajikan dan keburukanmu, maka pada dua sisi yang mana posisi Sama' Anda?"

Beliau menjawab, "Bukan dalam kebajikan, juga bukan dalam keburukan." Artinya, Jurayj menggolongkan sebagai perbuatan mubah.
Parit (Khandaq) adalah parit yang digali oleh Rasulullah saw bersama para sahabatnya di Madinah al-Munawwarah. Hal itu terjadi pada tahun 626 M, yang dijadikan sebagai benteng. Musuhnya adalah suku Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan. Pertempuran ketika itu disebut dengan Perang Khandaq.

Sementara Imam asy-Syafi'i r.a. tidak mengharamkan penyimakan lagu-lagu syair. Hanya saja makruh bagi orang awam, walaupun lagunya telah digubah, ataupun sepanjang penyimakannya diarahkan untuk permainan yang bisa menolak kesaksian, digunakan untuk hal-­hal yang bisa menjatuhkan harga diri, dan tidak dipertautkan dengan hal-hal yang diharamkan, maka tetap makruh.

Rabu, 11 Maret 2015

Tarekat Alawiyyah


Oleh KH. Luqman Hakim

Tarekat Alawiyyah berbeda dengan tarekat sufi lain pada umumnya. Perbedaan itu, misalnya, terletak dari praktiknya yang tidak menekankan segi-segi riyadlah (olah ruhani) dan kezuhudan, melainkan lebih menekankan pada
amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan.

Sehingga wirid dan dzikir ini dapat dengan mudah dipraktikkan oleh siapa saja meski tanpa dibimbing oleh seorang mursyid. Ada dua wirid yang diajarkannya, yakni Wirid Al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. Juga dapat dikatakan, bahwa tarekat ini merupakan jalan tengah antara Tarekat Syadziliyah [yang menekankan riyadlah qulub (olah hati) dan batiniah] dan Tarekat Al-Ghazaliyah [yang menekankan riyadlah al-‘abdan (olah fisik)].

Tarekat Alawiyyah merupakan salah satu tarekat mu’tabarah dari 41 tarekat yang ada di dunia. Tarekat ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tarekat ini didirikan oleh Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir – lengkapnya Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir -- , seorang tokoh sufi terkemuka asal Hadhramat pada abad ke-17 M. Namun dalam perkembangannya kemudian, Tarekat Alawiyyah dikenal juga dengan Tarekat Haddadiyah, yang dinisbatkan kepada Sayyid Abdullah al-Haddad, selaku generasi penerusnya. Sementara nama “Alawiyyah” berasal dari Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir.

Tarekat Alawiyyah, secara umum, adalah tarekat yang dikaitkan dengan kaum Alawiyyin atau lebih dikenal sebagai saadah atau kaum sayyid – keturunan Nabi Muhammad SAW – yang merupakan lapisan paling atas dalam strata masyarakat Hadhrami. Karena itu, pada masa-masa awal tarekat ini didirikan, pengikut Tarekat Alawiyyah kebanyakan dari kaum sayyid (kaum Hadhrami), atau kaum Ba Alawi, dan setelah itu diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat muslim lain dari non-Hadhrami.

Tarekat Alawiyyah juga boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengamalan wirid dan dzikir bagi para pengikutnya. Yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dahulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika ingin mengamalkan tarekat ini. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Demikian pula, dalam pengamalan ajaran dzikir dan wiridnya, Tarekat Alawiyyah termasuk cukup ringan, karena tarekat ini hanya menekankan segi-segi amaliah dan akhlak (tasawuf ‘amali, akhlaqi). Sementara dalam tarekat lain, biasanya cenderung melibatkankan riyadlah-riyadlah secara fisik dan kezuhudan ketat.

Oleh karena itu dalam perkembangan lebih lanjut, terutama semasa Syekh Abdullah al-Haddad – Tarekat Alawiyyah yang diperbaharui – tarekat ini memiliki jumlah pengikut yang cukup banyak seperti di Indonesia. Bahkan dari waktu ke waktu jumlah pengikutnya terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Tarekat Alawiyyah memiliki dua cabang besar dengan jumlah pengikut yang juga sama banyak, yakni Tarekat ‘Aidarusiyyah dan Tarekat ‘Aththahisiyyah.

Biografi Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir
Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir (selanjutnya Imam Ahmad) adalah keturunan Nabi Muhammad SAW melalui garis Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fathimah Azzahra binti Rasulullah SAW. Ia lahir di Basrah, Irak, pada tahun 260 H. Ayahnya, Isa bin Muhammad, sudah lama dikenal sebagai orang yang memiliki disiplin tinggi dalam beribadah dan berpengetahuan luas. Mula-mula keluarga Isa bin Muhammad tinggal di Madinah, namun karena berbagai pergolakan politik, ia kemudian hijrah ke Basrah dan Hadhramaut. Sejak kecil hingga dewasanya Imam Ahmad sendiri lebih banyak ditempa oleh ayahnya dalam soal spiritual. Sehingga kelak ia terkenal sebagai tokoh sufi. Bahkan oleh kebanyakan para ulama pada masanya, Imam Ahmad dinyatakan sebagai tokoh yang tinggi hal-nya (keadaan ruhaniah seorang sufi selama melakukan proses perjalanan menuju Allah—red).

Selain itu, Imam Ahmad juga dikenal sebagai seorang saudagar kaya di Irak. Tapi semua harta kekayaan yang dimilikinya tak pernah membuat Imam Ahmad berhenti untuk beribadah, berdakwah, dan berbuat amal shaleh. Sebaliknya, semakin ia kaya semakin intens pula aktivitas keruhanian dan sosialnya.

Selama di Basrah, Imam Ahmad sering sekali dihadapkan pada kehidupan yang tak menentu. Misalnya oleh berbagai pertikaian politik dan munculnya badai kedhaliman dan khurafat. Sadar bahwa kehidupan dan gerak dakwahnya tak kondusif di Basrah, pada tahun 317 H Imam Ahmad lalu memutuskan diri untuk berhijrah ke kota Hijaz. Dalam perjalanan hijrahnya ini, Imam Ahmad ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin Ali al-Uraidhi, dan putra terkecilnya, Abdullah. Dan setelah itu ia kemudian hijrah ke Hadhramaut dan menetap di sana sampai akhir hayatnya.

Tapi dalam sebuah riwayat lain disebutkan, sewaktu Imam Ahmad tinggal di Madinah Al-Munawarrah, ia pernah menghadapi pergolakan politik yang tak kalah hebat dengan yang terjadi di kota Basrah. Pada saat itu, tepatnya tahun 317 H, Mekkah mendapat serangan sengit dari kaum Qaramithah yang mengakibatkan diambilnya Hajar Aswad dari sisi Ka’bah. Sehingga pada tahun 318 H, tatkala Imam Ahmad menunaikan ibadah haji, ia sama sekali tidak mencium Hajar Aswad kecuali hanya mengusap tempatnya saja dengan tangan. Barulah setelah itu, ia pergi menuju Hadhramaut.